''Dek, nitip surat ini ya buat Ibu.", jawab Bu Ani setelah aku persilakan masuk dan duduk di atas bangku tua itu. "Acaranya buat kapan, Bu?" ,Tanyaku. "Lusa. Saya khawatir kalo baru besok saya sampaikan akan merepotkan Ibunya Dek Gina untuk menyebarkannya.". "sekarang Ibu mau ke tempat Mas Budi, anak Ibu yang di dekat sini?", Tanyaku agak pribadi, karena saat ini sudah jam 9 malam. "Ah, saya gak mau ngerepotin anak saya, pasti dia udah kecapean abis ngantor, lagipula jam segini kan waktunya berkumpul sama anak dan istrinya. Ntar mereka malah repot menjamu saya.". "Ibu nginep disini aja, ya?", pintaku. " Sudah 3 hari rumah ditinggal, baru tadi bada ashar saya pulang dari JAkarta. Karena inget ada surat- surat yang belum saya sampaikan terpaksa saya pergi lagi tadi jam 5 sore, alhamdulillah saya sudah ga punya utang surat lagi.".
Itu adalah sepenggal pembicaraan saya dengan salah satu teman Mamah. Bu Ani adalah rekan Ibuku di sebuah organisasi yang langsung di bawah kelurahan. Beliau adalah sosok Janda dengan 6 orang anak yang telah berhasil membawa seluruh anaknya meraih jenjang pendidikan minimal S1 dengan bekerja sebagai guru TK dan mengandalkan pensiunan guru dari almarhum suaminya. S... W... G... L..?
Beliau adalah sosok yang selalu menyemangati orang tua saya untuk tetap semangat menyekolahkan anak setinggi mungkin meski kecukupan dana belum tersedia. "Biarlah kita (orang tua) makan dengan nasi dan garam agar anak kita tetap sekolah dan berprestasi, dan jangan sampai anak kita mengetahui menu makan kita" ungkapan beliau yang menggambarkan kesungguhannya.
Mungkin teman-teman menganggap tidak ada yang istimewa dari Bu Ani. Tapi sosok beliau selalu mengingatkan saya tentang hari tua, meski tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah kita akan sampai hingga usia tersebut. Anyway, Bu Ani ini adalah perempuan yang usianya sudah kepala 6 dan cucunya yang pertama sudah berusia 30 tahunan. Terbayang khan sosoknya sudah seperti apa? Tapi kalo melihat aktivitasnya, saya sering bertasbih diikuti gelengan kepala. Rumahnya saat ini terletak di pinggiran kota Bandung (Bandung coret-Red), kira-kira 1,5 jam menggunakan angkot, namun Beliau masih aktif berkegiatan di kota Bandung bersama Ibuku. setiap keluar rumah tidak lupa menyelendangkan 2 tas di bahu kiri dan kanannya, 1 buah tas dijinjing, dan memegang sebuah payung panjang. Jangan tanya isinya apa, karena mulai dari alat makan, alat tulis, hingga alat menjahit seperti kancing dan benang selalu tersedia di tasnya. "Biar saya gak menerepotkan orang lain kalau memerlukannya", jawabnya. Setiap hari selalu saja ada kegiatan di Bandung dan tentu saja memerlukan dana yang tidak sedikit untuk biaya transportasi, belum termasuk biaya lain-lain seperti foto copy dll.
Hmm... capek skali ga sih, Bu?. "Kalau ga seperti ini saya suka merasa ga enak badan dan terasa pegel kalo cuma tinggal di rumah aja.". Subhanallah.....
>>>>>>>>>> To Be Continued